Jalan kaki, aktivitas yang sederhana dan menyehatkan ini ternyata memiliki makna yang sangat berbeda di dua negara Asia: Indonesia dan Jepang. Di Jepang, jalan kaki adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang dianggap lumrah dan bahkan membentuk budaya masyarakatnya. Namun di Indonesia, jalan kaki justru sering dianggap sebagai aktivitas yang “istimewa” atau bahkan “tidak biasa” bagi sebagian besar penduduk, terutama di kota-kota besar.
Fenomena ini menarik untuk dikaji. Mengapa budaya jalan kaki begitu mengakar dalam keseharian masyarakat Jepang, sementara di Indonesia masih menjadi sesuatu yang kurang umum?
Jepang: Jalan Kaki sebagai Bagian dari Gaya Hidup
Di Jepang, jalan kaki adalah bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Anak-anak sejak usia dini terbiasa berjalan kaki ke sekolah tanpa diantar orang tua. Masyarakat Jepang dari berbagai usia pun kerap berjalan kaki ke stasiun, ke tempat kerja, atau sekadar berbelanja. Bahkan, berjalan sejauh 1–2 kilometer dianggap hal yang sangat wajar.
Hal ini didukung oleh infrastruktur kota yang ramah pejalan kaki: trotoar lebar dan bersih, penyeberangan yang aman, serta transportasi publik yang terintegrasi. Budaya disiplin dan tepat waktu juga membuat masyarakat Jepang lebih memilih berjalan kaki ketimbang terjebak kemacetan.
Selain itu, kesadaran akan kesehatan dan lingkungan juga tinggi. Jalan kaki bukan hanya cara untuk beraktivitas, tetapi juga bentuk gaya hidup sehat dan efisien.
Indonesia: Jalan Kaki Bukan Prioritas
Sebaliknya, di Indonesia—terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan—jalan kaki sering kali bukan pilihan utama. Banyak orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, bahkan untuk jarak yang relatif dekat. Jalan kaki justru dianggap sebagai opsi terakhir jika tidak ada kendaraan, atau bahkan dipandang sebelah mata.
Hal ini diperparah oleh infrastruktur yang tidak mendukung: trotoar sempit, rusak, atau digunakan oleh pedagang kaki lima dan pengendara motor. Belum lagi minimnya rasa aman dan kenyamanan bagi pejalan kaki. Berjalan kaki di tengah polusi, terik matahari, dan risiko kecelakaan membuat orang enggan melakukannya.
Menariknya, saat ada program car free day atau kampanye “jalan kaki sehat,” barulah aktivitas ini menjadi sesuatu yang dianggap spesial. Kegiatan yang seharusnya bisa dilakukan setiap hari justru menjadi acara akhir pekan yang hanya dilakukan sesekali.
Perbedaan Perspektif dan Budaya Mobilitas
Salah satu penyebab utamanya adalah perbedaan dalam membangun budaya mobilitas. Di Jepang, berjalan kaki adalah bagian dari sistem transportasi yang dirancang matang dan terintegrasi. Sementara di Indonesia, sistem transportasi publik masih dalam tahap pengembangan dan belum sepenuhnya terhubung dengan baik ke kawasan perumahan atau tempat kerja.
Selain itu, gaya hidup konsumtif dan simbol status juga berperan. Kendaraan pribadi masih dianggap sebagai simbol keberhasilan, sedangkan berjalan kaki kadang dipandang sebagai “tidak mampu.”
Jalan kaki seharusnya menjadi hal biasa dan positif di mana pun, bukan sesuatu yang dianggap istimewa atau hanya tren sesaat. Belajar dari Jepang, Indonesia bisa mulai membangun budaya jalan kaki dengan memperbaiki infrastruktur, memberikan edukasi, dan mengubah cara pandang masyarakat terhadap mobilitas. Karena pada akhirnya, berjalan kaki bukan hanya soal jarak, tapi juga soal kesehatan, kesadaran lingkungan, dan kualitas hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar